Bermanfaatkah Kurikulum?

Salah satu administrasi yang wajib dimiliki oleh guru adalah KURIKULM. Kurikulum adalah "semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah" (Kerr, J.F, 1968).
Perhatian pemerintah terhadap kurikulum memang cukup mendapat pujian, ini terlihat dari perubahan-perubahan kurikulum yang dirancang sejak tahun 1947-2013, telah terjadi 10 kali perubahan kurikulum.
Namun yang menjadi pertannyaan adalah, sampai sejauhmanakah kurikulum itu berpengaruh bagi perkembangan anak didik? Pertanyaan ini muncul ketika saya melihat fenomena yang terjadi di masyarakat,  yang berhubungan dengan tingkah laku anak didik yang cukup memprihatinkan.   kejahatan-kejahatan yang terlihat dari peserta didik kian hari semakin bervariasi, contohnya saja, pergaulan sex bebas, penggunaan obat-obat terlarang, perkelahian antar siswa, kelompok geng yang mengganggu masyarakat, dan sebagainya.
Padahal hasil yang diharapkan dari kurikulum yang dirancang bertujuan untuk memanusiakan peserta didik menjadi manusia yang seutuhnya. Kurikulum dirancang agar siswa menjadi anak yang terdidik, terampil dan cakap dalam bersikap. Tapi mengapa justru outputnya yang dihasilkan berbeda dari harapan itu? apa yang salah dari kurikulum?
Sebenarnya ada beberapa filsuf  yang menentang pendidikan formal , satunya yang paling saya ingat adalah Martin Heideger (jerman, 1889-1976), pendidkan formal hanya membuat anak didik meniru, dan membuat mereka jatuh ke dalam kemerosotan. .
Kurikulum di sekolah menghambat perkembangan bakat anak. Bagaimana tidak? kurikulum sekolah hanya menyajikan beberapa mata pelajaran yang harus di geluti oleh anak didik, namun bisa jadi bahwa dari beberapa mata pelajaran, tidak satupun yang  menyentuh bakat mereka. Mata pelajaran yang disajikan dalam kurikulum tidak representatif untuk mewakili seluruh bakat anak. Ini membuat anak didik berkembang tidak sesuai dengan bakatnya.  Bakat yang tadinya cukup potensial, akhirnya tertanam begitu saja karena tidak pernah disentuh. Mereka tenggelam di dalam sistem yang memenjarakan bakat mereka.
Sistem yang dirancang membuat mereka tidak menjadi diri mereka yang sesungguhnya, hasilnya adalah  rasa tekanan dan prustasi, akibatnya mereka mengambil tindakan-tindakan yang mengancam diri dan orang lain melalui kegiatan-kegiatan yang ia anggap dapat memuaskan hasratnya. Fenomena-fenomena kejahatan anak didik adalah reaksi dari ketidakpuasan mereka terhadap rancangan kurikulum.
Sudah saatnya kurikulum memperhatikan hal ini, agar output yang dihasilkan sesuai dengan tujuan, jika tidak, kurikulum hanyalah alat untuk menghambat perkembangan anak didik.

Pengumpulan Informasi Hasil Belajar dan Tagihannya

Penilaian dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan kegiatan pembelajaran di kelas berlangsung.

Metode atau cara penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa harus dirancang dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengacu pada kurikulum, artinya penilaian yang dilakukan harus secara tepat menilai kompetensi-kompetensi dasar yang ditentukan pada kurikulum.
  2. bersifat adil bagi seluruh siswa, tanpa membedakan latar belakang, budaya, jenis kelamin, dan lain-lain yang tidak ada kaitannya dengan penilaian.
  3. dapat memberi informasi yang lengkap untuk umpan balik bagi guru, bagi perbaikan program pembelajaran di kelas (program Tahunan, Satuan Pelajaran, Kegiatan belajar Mengajar, dan sebagainya), dan dapat digunakan untuk membantu siswa secara individual.
  4. Hasil penilaian juga bermanfaat bagi siswa untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya.
  5. Dilaksanakan secara menyenangkan baik dari segi proses maupun manajemen.
  6. Diadministrasikan dengan tepat dan murah.
Untuk pengumpulan hasil belajar siswa, pemilihan metode atau cara penilaian harus dilakukan dengan hati-hati.  Karena tidak semua metode penilaian mampu memngumpulkan informasi menyeluruh tentang hasil belajar mereka.

Beberapa hasil belajar perlu dijaring dengan cara penilaian tertentu. Di samping itu pemilihan cara penilaian dapat mempengaruhi pemikiran siswa mengenai apa yang bernilai. Sebagai contoh, untuk pelajaran agama, keterampilan yang diharapkan terjadi dalam diri peserta didik sangatlah penting, tetapi hasil belajar hanya berdasarkan tes tertulis, akibatnya siswa bahkan guru sendiri akan memusatkan perhatian dan usahanya hanya pada hasil belajar yang dapat dinilai berdasarkan tes tertulis.

Pengumpulan informasi hasil belajar biasanya memerlukan metode atau cara penilaian yang beragam. Informasi tentang hasil belajar tertentu kemungkinan membutuhkan observasi, sedangkan informasi tentang hasil belajar lainnya kemungkinan dapat dikumpulkan melalui tugas tertulis, seperti tes, kuis sehari-hari, dan pekerjaan rumah.

Informasi hasil belajar lainnya hanya dapat diperoleh dari hasil memeriksa dan menilai karya siswa.

A. Cara pengumpulan informasi

1. Penilaian Melalui Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil kerja seseorang yang sistematis dalam suatu periode tertentu.

Dalam dunia pengajaran, portofolio merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Kumpulan hasil kerja siswa yang diperbaharui dan berkelanjutan akan memperlihatkan perkembangan keterampilan atau kemampuan siswa yang tidak dapat terlihat dari hasil pengujian.

Kumpulan hasil kerja siswa itu merupakan refleksi perkembangan berfikir mereka. Disamping itu kumpulan kerja yang berkelanjutan itu akan lebih memperkuat hubungan pembelajaran dan penilaian.

Pengumpulan dan penilaian hasil kerja siswa yang terus-menerus sebaiknya dijadikan titik sentral program pengajaran. Hasil kerja siswa yang selalu diperbaharui itu dapat terlihat perbedaan-perbedaan kualitas dari waktu-ke waktu.

2. Penilaian Melalui Unjuk Kerja

Penilaian unjuk kerja adalah penilaian berdasarkan hasil pengamatan penilai terhadap aktivitas siswa sebagaimana yang terjadi. Penilaian dilakukan terhadap unjuk kerja, tingkah laku, atau interaksi siswa.

Cara penilaian tersebut lebih otentik daripada tes tertulis, karena bentuk tugasnya lebih mencerminkan kemampuan siswa yang sebenarnya. Semakin banyak kesempatan guru menganati unjuk kerja siswa, semakin reliable hasil penilaian kemampuan siswa.

Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam membuat unjuk kerja sebagai berikut:
  • Identifikasi semua langkah penting atau aspek yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil belajar.
  • Tuliskan kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.
  • Usahakan kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua dapat diamati.
  • Urutkan kemampuan yang diukur berdasarkan urutan yang diamati.
  • Bila menggunakan skala rentang, perlu menyediakan kriteria untuk setiap pemilihan (kompeten, bila siswa........... sedikit kompeten bila.........)
Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah cara mengamati dan memberi skor terhadap unjuk kerja siswa. Penilaian terhadap ujuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya - tidak) atau skala rentang (sangat kompeten - kompeten - sedikit kompeten - tidak terlihat).

3. Penilaian Melalui Penugasan (proyek/project)

Penugasan proyek ini dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman dan pengetahuan siswa dalam bidang tertentu, mengetahui kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan itu dalam penyelidikan tertentu, dan mengetahui kemampuan siswa dalam menginformasikan subjek tertentu secara jelas.

Beberapa contoh proyek :

  • Merancang kegiatan sosial pada korban bencana tsunami.
  • Proyek terpadu tentang pemasangan, saluran air di sekitar rumah.
  • Proyek penanggulangan bahaya narkotika dal zat adiktif remaja kristen.

4. Penilaian melalui Hasil Kerja (produk/product)

Penilaian hasil kerja adalah penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti : makanan, pakaian, hasil karya seni (gambar, lukisan, pahatan), barang-barang terbuat dari kayu, plastik dan logam.

Pengembangan produk meliputi tiga tahap, yaitu:

  • Tahap persiapan, meliputi: menilai kemampuan siswa merencanakan, menggali dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.
  • Tahap pembuatan produk, meliputi: menilai kemampuan siswa menyeleksi dan menggunakan bahan, alat dan teknik.
  • Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan siswa membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.
Untuk produk, penilaian biasanya menggunakan cara holistik dan analitik. Holistik berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, sedangkan analitik dilakukan untuk semua kriteria yang terdapat pada semua tahap proses pengembangan.

3. Penilain Melalui Tes Tertulis

Tes Tertulis biasanya diadakan untuk waktu yang terbatas dan dalam kondisi tertentu. Secara umum bentuk-bentuk tes tertulis adalah sebagai berikut:
  • Benar - Salah
  • Menjodohkan
  • Pilihan Ganda
  • Isian/ Jawaban sinbgkat 
  • Uaraian/Esai
4. Bentuk Tagihan

  1. Ulangan harian dilakuka secara periodik pada akhir pengembangan kompetensi. Nilai setiap kompetensi dikumpulkan dan akan dilaporkan pada akhir setiap semester.  Dengan demikian pada akhir semester tidak perlu dilakukan ujian.
  2. Ujian akhir tahun: dilakukan untuk menentukan kenaikan kelas.

Demikian sekilas tentang cara pengumulan informasi hasil belajar dan tagihannya. mudah-mudahan penjelasan ini dapat memperkaya para guru untuk memahami tentang teknik penilaian melaui pengumpulan informasi, dengan demikian penilaian yang kita lakukan lebih efektif dan objektif.

Pengertian: Karya, Unjuk Kerja dan perilaku/sikap dalam RPP

Untuk menjabarkan konsep kompetensi dalam proses dan hasil pembelajaran sesuai karakteristiknya, maka penilaian karya, unjuk kerja dan perilaku/sikap merupakan kegiatan belajar yang dapat diukur dan memiliki indikator yang dapat dievaluasi sesuai kriteria dalam ilmu pendidikan.

1. Karya

Karya adalah bentuk yang dihasilkan siswa pada saat proses belajar berlangsung dan pada saat proses belajar berakhir, serta dapat menunjukkan karyanya sebagai bukti-bukti fisik, baik secara lisan maupun tulisan. Contoh: doa, renungan, refleksi, karangan, pendapat, laporan buku, telaah Alkitab dan lain-lain.

2.. Unjuk Kerja

Unjuk kerja adalah bentuk yang dihasilkan siswa dengan cara merespon pembelajaran yang dialaminya.

Guru dapat merasakan, mengalami, melihat, menyaksikan, menerima performance/unjuk kerja siswa selama proses belajar.

Unjuk kerja ini dapat diukur sebagai hasil proses belajar dan hasil belajar. Contoh: Berpenampilan bersih, proaktif, rajin membawa Alkitab, aktif pelayanan di gereja dan masyarakat, rajin berdoa dan mendoakan orang lain, mengaplikasikan ajaran kristen, inisiatif menolong sesama, kemandirian berfikir dan bertindak, teramil menelaah Alkitab.

3. Perilaku

Perilaku/sikap adalah bentuk penghayatan akan imannya yang diwujudkan dalam bentuk tindakan konkrit, nyata dapat dilihat mata, dan dapat dirasakan orang lain serta membawa efek positif bagi orang lain. Nilai-nilai mporal dari ajaran agama mempengaruhi siswa dan diwujudkan dalam bentuk sikap.

Contoh: Sikap jujur siswa yang dapat dilihat, dialami, dirasakan guru, mengasihi sesama dan ciptaan lainnya, sikap toleransi dalam bergaul dengan berbagai teman yang memiliki banyak perbedaan, taat pada peraturan sekolah, disiplin dalam kehidupan sehari-hari, menjadi saksi bagi iman percayanya, memiliki karakter kristiani, dan taat pada ajaran agamanya.

Penilaian terhadap siswa dapat diukur menurut norma-norma ilmu pendidikan umum. Namun khusus bagi Pendidikan Agama Kristen, peranan dan Karya Roh Kudus yang melampaui akal budi, rasionalitas manusia tetap harus dipertimbangkan. Artinya tindakan, perbuatan baik, perilaku kristiani, tindakan-tindakan bermoral hanya mungkin karena dimampukan oleh-Nya, Sang Ilahi yang adi kodrati.Karena itu pendidikan agama kristen bukanlah bersifat matematis.

Tugas guru adalah menyelaraskan pengetahuan, unjuk kerja dan perilaku, sehingga memperoleh proses dan hasil belajar yang utuh, yaitu kesatuan pikiran, tindakan dan sikap karena iman percaya kepada Allah.

Penilaian Eksternal dan Internal

Dalam suasana globalisasi dan desentralisasi pendidikan diperlukan kebijakan baru yang dilakukan pemerintah untuk menetapkan tingkatan kualitas peserta didik pada masing-masng sekolah sesuai dengan kebutuhannya.

Pengakuan terhadap siswa dapat dilakukan oleh pihak luar (penilaian eksternal), baik yang bersifat internasional, nasional maupun lokal, disamping dilakukan oleh sekolah sendiri.

Sedangkan penilaian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa dan perbaikan proses belajar mengajar dilakukan oleh sekolah sendiri.

A. Penilaian Eksternal

Tiga hal penilaian eksternal sebagai berikut:

1. Penilaian Internasional

Penilaian bertingkat intenasional dapat dilakukan oleh sekolah setingkat Sekolah Menengah Atas untuk memperoleh pengakuan dari pihak tertentu yang memilki akses untuk membawa sekolah tersebut berhak memasuki suatu perguruan tinggi yang bersifat internasional.

2. Penilaian Nasional

Penilaian setingkat nasional dapat dilakuak oleh setingkat Sekolah Menengah Atas, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Dasar untuk memperoleh pengakuan dan sertifikat pada jenjang pendidikan tertentu secara nasional berhak untuk melanjutkan pendidikannya dan mengikuti seleksi sekolah manapun di Indonesia.
Peserta didik yang memperoleh sertifikat bertingkat nasional bisa juga menggunakan sertifikat ini untuk keperluan yang berkaitan dengan jenjang pendidikan di tingkat nasinal, misalnya bekerja.

3. Penilaian Lokal

Penilaian setingkat lokal adalah penilaian yang dilakukan oleh lembaga akreditasi pendidikan setingkat propinsi maupun kabupaten (dapat berupa Dinas Pendidikan maupun lembaga swasta yang ditunjuk oleh Majelis Pendidikan) yang bertugas melakukan pengujian untuk memperoleh sertifikasi terhadap pendidikan jenjang SMP dan SMA di kabupaten maupun propinsi tersebut. Peserta didik yang telah memperoleh sertifikat tersebut berhak mengikuti pendidikan ke jenjang berikutnya maupun menggunakan sertifikat tersebut untuk urusan lain di kabupaten maupun propinsi tersebut.

B. Penilaian Internal

Penilaian Internal adalah penilaian terhadap hasil belajar anak yang dilakukan oleh guru atas nama sekolah untuk mengukur kompetensi peserta didik sesuai dengan tingkatnya, baik pada proses terjadinya belajar maupun pada hasil akhirnya. Penilaian diakuak pada saat kompetensi diajarkan dan pada akhir pembelajaran.

Dalam membuat penilaian yang akurat dan adil, guru harus besikap optimal, yaitu:
  1. Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian yang dilakukan dengan berbagai strategi dan cara.
  2. Membuat keputusan yang adil terhadap penguasaan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan hasil kerja yang dikumpulkan.
Demikian sekilas tentang Penlaian Eksternal dan Internal, yang mungkin dapat membantu para guru untuk memahami sekitar penilaian. 

Keterampilan Membimbing Diskusi Dalam Kelompok Kecil

Percakapan dalam kelompok dapat dikatakan diskusi apabila memenuhi syarat sebagai berikut:
  1. Melibatkan kelompok yang jumlahnya lebih kurang antara 3 sampai 9 orang.
  2. Berlangsung dalam interaksi tatap muka informal yang berarti semua anggota kelompok harus ada kesempatan melihat, mendengar, serta berkomunikasi secara bebas dan langsung.
  3. mempunyai tujuan yang dicapai dengan kerjasama antar anggota kelompok.
  4. Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kesimpulan.
Ada banyak keuntungan diskusi kelompok antara lain:
  1. Berbagi informasi dalam menjelajahi gagasan baru atau pemecahan masalah.
  2. Dapat meningkatkan pemahaman atas masalah-masalah penting.
  3. Dapat mengembangkan kemampuan untuk berfikir dan berkomunikasi.
  4. Dapat meningkatkan keterlibatan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan.
  5. Dapat membina semangat kerjasama yang sehat, berkelompok yang kohesif dan bertanggung jawab.
Jika kita perhatikan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh melalui diskusi, semuanya merupakan bekal bagi siswa untuk terjun ke masyarakat kelak.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan diskusi , antara lain :
  1. Diskusi hendaknya berlangsung dalam iklim terbuka antar pribadi, kesediaan menerima, pengenalan topik diskusi lebih jauh, keantusiasan berpartisipasi, dan kesediaan menerima pendapat orang lain.
  2. Diskusi yang efektif harus;ah didahului oleh perencanaan dan persiapan matang, antara lain, mencakup hal-hal sebagai berikut:
  • Topik yang dipilih hendaknya sesyai dengan tujuan yang ingin dicapai.
  • Perencanaan dan persiapan informasi pendahuluan yang berhubungan dengan topik tersebut hingga siswa memiliki latar belakang yang sama.
  • Menyiapkan diri sebaik-baiknya sebagai pemimpin diskusi.
  • Jumlah anggota yang efektif berkisar antara 5-9 orang.
  • Tempat duduk diatur sehingga memungkinkan semua anggota kelompok dapat bertatap muka.
Keuntungan dan Kelemahan Diskusi Kelompok

A. Keuntungan
  1. Keputusan hasil diskusi kelompok lebih baik dibandingkan dengan keputusan individu.
  2. Antara satu dengan yang lain saling berbagi informasi.
  3. Dapat meningkatkan kemampuan individu untuk berinteraksi karena terlatih dalam diskusi kelompok.
  4. Anggota kelompok merasa terikat dalam melaksanakan keputusan kelompok.
  5. Anggota kelompok yang pemalu lebih bebas mengemukakan pendapatnya dalam kelompok kecil daripada kelompok besar.
B. Kelemahan
  1. Diskusi kelompok memerlikan waktu lebih banyak dibanding dengan cara belajar biasa.
  2. Diskusi dapat memboroskan waktu, terutama jika terjadi hal-hal negatif, seperti, pengarahan yang kurang tepat, pembicaraan yang berlarut-larut, penyimpangan yang tidak jelas, atau penampilan yang kurang baik.
  3. Anggota kelompok kurang agresif, misalnya, pendiam, pemalu, sering tidak mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat, sehingga terjadi frustasi dan penarikan diri.
  4. Adakalanya diskusi kelompok hanya didominasi oleh orang-orang tertentu.
Demikian beberapa penjelasan menganai keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil, beserta beberapa keuntungan dan kelemahan dalam melaksanakan diskusi.

Mudah-mudahan penjelasan yang singkat ini dapat menambah pengalaman para guru untuk dapat mengenal lebih jauh tentang cara memimpin diskusi yang lebih baik.

Keterampilan Mengadakan Pendekatan Secara Pribadi Dengan Siswa

Salah satu prinsip dalam pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah terjadinya hubungan akrab dan sehat antara kita sebagai guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa.

Hal ini akan terwujud jika kita memiliki keterampilan berkomunikasi secara pribadi. Dengan keterampilan ini, memungkinkan kita dapat menciptakan susanan terbuka  hingga siswa benar-benar merasa bebas dan leluasa dalam mengemukakan segala pikiran dan pemahaman yang ia miliki.

Siswa akan merasa yakin bahwa kita selaku guru akan siap mendengarkan, mempertimbangkan segala endapatnya, serta siap membantu mereka jika diperlukan.

Suasana seperti itu kiranya dapat diciptakan, antara lain dengan cara-cara berikut.

  1. Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan siswa.
  2. Mendengarkan secara simpati ide-ide yang dikemukakan siswa.
  3. Memberikan respon positif terhadap buah pikiran siswa.
  4. Membangun hubungan saling mempercayai. Hal ini dapat kita tunjukkan secara verbal dan nonverbal, seperti ekspresi muka, berbicara langsung, menepuk bahu dan sebagainya.
  5. Menunjukkan kesiapan untuk membantu siswa tanpa kecenderungan untuk medominasi ataupun mengambil alih tugas siswa.
  6. Menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian dan keterbukaan.
  7. Berusaha mengendalikan situasi sehingga siswa merasa aman, penuh pemahaman, merasa dibantu, serta merasa menemukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapinya.
Semua perilaku di atas dapat tercermin  dalam bentuk verbal, tetapi sebagian besar dalam ekspresi nonverbal yang bersifat pribadi.

Keterampilan Memimpin Diskusi di Kelas

Ada enam keterampilan yang harus dimiliki oleh guru saat memimpin diskusi di kelas.
  1. Memusatkan Perhatian
  2. Memperjelas Masalah Atau Urunan Pendapat
  3. Menganalisis Pandangan Siawa
  4. Meningkatkan Urunan Siswa
  5. Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi
  6. Menutup Diskusi.
Berikut penjelasannya.

1. Memusatkan Perhatian.

Pemusatan perhatian ini dapat dilakukan dengan cara:
  • Merumuskan tujuan diskusi secara jelas, mengemukakan topik masalah dalam bentuk pertanyaan yang dapat  menggugah rasa ingin tahu serta memungkinkan adanya alternatif jawaban.
  • Merumuskan dan menyatakan kembali masalah jika terjadi penyimpangan dalam diskusi.
  • Menandai hal-hal yang tidak relevan dengan tujuan atau dengan masalah-masalah yang sedang dibahas jika terjadi penyimpangan. Anda sebagai pemimpin harus segera mengarahkan kepada tujuan semula.
  • Merangkum hasil pembicaraan pada tahap-tahap tertentu sebelum melanjutkan kepada masalah berikutnya. Rangkuman ini dibuat dengan memanfaatkan gagasan siswa, misalnya: 
         a. Menerima gagasan siswa tersebut dengan cara menguraikan kembali
         b. Memodifikasi gagasan tersebut dengan cara menguraikan kembali
         c. Menguraikan gagasan siswa itu untuk mencapai suatu kesimpulan atau untuk menuju langkah
             berikutnya.
        d. Membandingkan gagasan siswa dengan gagasan dengan gagasan yang telah diucapkan sebelumnya.
        e. Merangkum hal-hal yang telah diuraikan siswa, baik secara individual ataupun kelompok.

2. Memperjelas Masalah.

Untuk menghindari terjadinya pemahaman akan ide-ide yang kurang jelas dan kesalahpahaman, hal-hal yang dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Menguraikan kembali atau merangkum urunan pendapat tersebut  sehingga jelas diterima anggota diskusi.
  • Ajukan pertanyaan kepada anggota kelompok agar mereka memberi komentar untuk memperjelas dan mengembangkan ide tersebut.
  • Menguraikan gagasan anggota kelompok dengan memberikan informasi tambahan atau contoh-contoh yang relevan.
3. Menganalisis Pandangan Siswa.

Untuk menganalisis perbedaan pendapat dalam diskusi dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
  • Meneliti apakah alasan-alasan yang dikemukakan tersebut mempunyai dasar yang kuat.
  • Memperjelas hal-hal yang disepakati dan yang tidak disepakati.
 4. Meningkatkan Urunan Siswa.

Maksudnya adalah mengembangkan kemampuan daya berfikir siswa, dengan cara sebagai berikut:
  • Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci yang menantang siswa untuk berfikir. pertanyaan itu biasanya dimulai dengan : Bagaimana bila.... hal ini dapat meningkatkan urunan pendapat siswa.
  • Memberikan contoh-contoh, baik verbal maupun non verbal yang sesuai pada vsaat yang tepat. Umpamanya sebuah gambar atau diagram.
  • Menghangatkan suasana dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang perbedaan pendapat.
  • Memberikan waktu yang cukup berfikir tanpa diganggu dengan komentar-komentar anda sebagai pemimpin diskusi.
  • Mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap urunan pendapat siswa akan dirasakan sebagai dukungan oleh siswa yang bersangkutan.
5. Menyebarkan Kesempatan Berpartisipasi.

Penyebaran kesempatan untuk berpartisipasi ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
  • Memancing urunan pendapat siswa yang enggan berpartisipasi dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan langsung secara bijaksana. Misalnya. "Ibu yakin,  Arnold dapat memberikan contoh! Coba Arnold!
  • Mungkin terjadi pembicaraan yang serentak karena antusias dan sikap agresif, disertai pula dengan sikap ingin menonjol dari anggota. Anda harus cepat mencegah. berikanlah dahulu kesempatan kepada anak yang pendiam.
  • Secara bijaksana anda harus mencegah sikap siswa yang suka memonopoli.
  • Mendorong siswa untuk mengoentari urunan pendapat temannya sehingga interaksi antar teman dapat ditingkatkan.
  • jika diskusi mengalami jalan buntu, mintalah pendapat siswa untuk melanjutkan diskusi itu dengan mengambil salah satu pendapat, atau anda mengambil jalan tengah yang dianggap sesuai.
6. Menutup Diskusi.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
  • Anda harus merangkum hasil diskusi dengan bantuan para siswa. Rangkuman yang dibuat bersama akan lebih efektif daripada rangkuman itu dibuat oleh anda sendiri.
  • Memberikan bayangan tentang tindak lanjut hasil diskusi ataupun tentang topik diskusi yang akan datang.
  • Mengajak siswa untuk menilai hasil maupun proses diskusi yang telah dilaksanakan dengan cara observasi, wawancara, skala sikap, dan sebagainya. ini penting untuk perbaikan dalam diskusi yang akan datang.
Demikian beberapa teknik keterampilan dalam memimpin diskusi di dalam kelas. Mudah-mudahan hal ini semakin memperkaya anda dalam melaksanakan proses pembelajaran melalui  metode diskusi yang sering kita lakukan untuk meningkatkan kompetensi siswa.